Mengelola Sampah, Mengelola Gaya Hidup

Pengelolaan Persampahan: Menuju Indonesia Bebas Sampah (Zero Waste )
Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang/material yang kita gunakan sehari-hari. Demikian juga dengan jenis sampah, sangat tergantung dari jenis material yang kita konsumsi. Oleh karena itu pegelolaan sampah tidak bisa lepas juga dari ‘pengelolaan’ gaya hidup masyrakat.
Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah. Misalnya saja, kota Jakarta pada tahun 1985 menghasilkan sampah sejumlah 18.500 m3 per hari dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 25.700 m3 per hari. Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (volume Candi Borobudur = 55.000 m3). [Bapedalda, 2000]. Selain Jakarta, jumlah sampah yang cukup besar terjadi di Medan dan Bandung. Kota metropolitan lebih banyak menghasilkan sampah dibandingkan dengan kota sedang atau kecil.
Jenis Sampah
Secara umum, jenis sampah dapat dibagi 2 yaitu sampah organik (biasa disebut sebagai sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Sapah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun-daunan, sampah dapur, dll. Sampah jenis ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. Sebaliknya dengan sampah kering, seperti kertas, plastik, kaleng, dll. Sampah jenis ini tidak dapat terdegradasi secara alami.
Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan sampah basah, yaitu mencakup 60-70% dari total volume sampah. Oleh karena itu pengelolaan sampah yang terdesentralisisasi sangat membantu dalam meminimasi sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir. Pada prinsipnya pengelolaan sampah haruslah dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya. Selama ini pengleolaan persampahan, terutama di perkotaan, tidak berjalan dengan efisien dan efektif karena pengelolaan sapah bersifat terpusat. Misanya saja, seluruh sampah dari kota Jakarta harus dibuag di Tempat Pembuangan Akhir di daerah Bantar Gebang Bekasi. Dapat dibayangkan berapa ongkos yang harus dikeluarkan untuk ini. Belum lagi, sampah yang dibuang masih tercampur antara sampah basah dan sampah kering. Padahal, dengan mengelola sampah besar di tingkat lingkungan terkecil, seperti RT atau RW, dengan membuatnya menjadi kompos maka paling tidak volume sampah dapat diturunkan/dikurangi.
Alternatif Pengelolaan Sampah
Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif-alternatif pengelolaan. Landfill bukan merupakan alternatif yang sesuai, karena landfill tidak berkelanjutan dan menimbulkan masalah lingkungan. Malahan alternatif-alternatif tersebut harus bisa menangani semua permasalahan pembuangan sampah dengan cara mendaur-ulang semua limbah yang dibuang kembali ke ekonomi masyarakat atau ke alam, sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap sumberdaya alam. Untuk mencapai hal tersebut, ada tiga asumsi dalam pengelolaan sampah yang harus diganti dengan tiga prinsip–prinsip baru. Daripada mengasumsikan bahwa masyarakat akan menghasilkan jumlah sampah yang terus meningkat, minimisasi sampah harus dijadikan prioritas utama.
Sampah yang dibuang harus dipilah, sehingga tiap bagian dapat dikomposkan atau didaur-ulang secara optimal, daripada dibuang ke sistem pembuangan limbah yang tercampur seperti yang ada saat ini. Dan industri-industri harus mendesain ulang produk-produk mereka untuk memudahkan proses daur-ulang produk tersebut. Prinsip ini berlaku untuk semua jenis dan alur sampah.
Pembuangan sampah yang tercampur merusak dan mengurangi nilai dari material yang mungkin masih bisa dimanfaatkan lagi. Bahan-bahan organik dapat mengkontaminasi/ mencemari bahan-bahan yang mungkin masih bisa di daur-ulang dan racun dapat menghancurkan kegunaan dari keduanya. Sebagai tambahan, suatu porsi peningkatan alur limbah yang berasal dari produk-produk sintetis dan produk-produk yang tidak dirancang untuk mudah didaur-ulang; perlu dirancang ulang agar sesuai dengan sistem daur-ulang atau tahapan penghapusan penggunaan.
Program-program sampah kota harus disesuaikan dengan kondisi setempat agar berhasil, dan tidak mungkin dibuat sama dengan kota lainnya. Terutama program-program di negara-negara berkembang seharusnya tidak begitu saja mengikuti pola program yang telah berhasil dilakukan di negara-negara maju, mengingat perbedaan kondisi-kondisi fisik, ekonomi, hukum dan budaya. Khususnya sektor informal (tukang sampah atau pemulung) merupakan suatu komponen penting dalam sistem penanganan sampah yang ada saat ini, dan peningkatan kinerja mereka harus menjadi komponen utama dalam sistem penanganan sampah di negara berkembang. Salah satu contoh sukses adalah zabbaleen di Kairo, yang telah berhasil membuat suatu sistem pengumpulan dan daur-ulang sampah yang mampu mengubah/memanfaatkan 85 persen sampah yang terkumpul dan mempekerjakan 40,000 orang.
Secara umum, di negara Utara atau di negara Selatan, sistem untuk penanganan sampah organik merupakan komponen-komponen terpenting dari suatu sistem penanganan sampah kota. Sampah-sampah organik seharusnya dijadikan kompos, vermi-kompos (pengomposan dengan cacing) atau dijadikan makanan ternak untuk mengembalikan nutirisi-nutrisi yang ada ke tanah. Hal ini menjamin bahwa bahan-bahan yang masih bisa didaur-ulang tidak terkontaminasi, yang juga merupakan kunci ekonomis dari suatu alternatif pemanfaatan sampah. Daur-ulang sampah menciptakan lebih banyak pekerjaan per ton sampah dibandingkan dengan kegiatan lain, dan menghasilkan suatu aliran material yang dapat mensuplai industri.
Tangguang Jawab Produsen dalam Pengelolaan Sampah
Hambatan terbesar daur-ulang, bagaimanapun, adalah kebanyakan produk tidak dirancang untuk dapat didaur-ulang jika sudah tidak terpakai lagi. Hal ini karena selama ini para pengusaha hanya tidak mendapat insentif ekonomi yang menarik untuk melakukannya. Perluasan Tanggungjawab Produsen (Extended Producer Responsibility – EPR) adalah suatu pendekatan kebijakan yang meminta produsen menggunakan kembali produk-produk dan kemasannya. Kebijakan ini memberikan insentif kepada mereka untuk mendisain ulang produk mereka agar memungkinkan untuk didaur-ulang, tanpa material-material yang berbahaya dan beracun. Namun demikian EPR tidak selalu dapat dilaksanakan atau dipraktekkan, mungkin baru sesuai untuk kasus pelarangan terhadap material-material yang berbahaya dan beracun dan material serta produk yang bermasalah.
Di satu sisi, penerapan larangan penggunaan produk dan EPR untuk memaksa industri merancang ulang ulang, dan pemilahan di sumber, komposting, dan daur-ulang di sisi lain, merupakan sistem-sistem alternatif yang mampu menggantikan fungsi-fungsi landfill atau insinerator. Banyak komunitas yang telah mampu mengurangi 50% penggunaan landfill atau insinerator dan bahkan lebih, dan malah beberapa sudah mulai mengubah pandangan mereka untuk menerapkan “Zero Waste” atau “Bebas Sampah”.
Sampah Bahan Berbahaya Beracun (B3)
Sampah atau limbah dari alat-alat pemeliharaan kesehatan merupakan suatu faktor penting dari sejumlah sampah yang dihasilkan, beberapa diantaranya mahal biaya penanganannya. Namun demikian tidak semua sampah medis berpotensi menular dan berbahaya. Sejumlah sampah yang dihasilkan oleh fasilitas-fasilitas medis hampir serupa dengan sampah domestik atau sampah kota pada umumnya. Pemilahan sampah di sumber merupakan hal yang paling tepat dilakukan agar potensi penularan penyakit dan berbahaya dari sampah yang umum.
Sampah yang secara potensial menularkan penyakit memerlukan penanganan dan pembuangan, dan beberapa teknologi non-insinerator mampu mendisinfeksi sampah medis ini. Teknologi-teknologi ini biasanya lebih murah, secara teknis tidak rumit dan rendah pencemarannya bila dibandingkan dengan insinerator.
Banyak jenis sampah yang secara kimia berbahaya, termasuk obat-obatan, yang dihasilkan oleh fasilitas-fasilitas kesehatan. Sampah-sampah tersebut tidak sesuai diinsinerasi. Beberapa, seperti merkuri, harus dihilangkan dengan cara merubah pembelian bahan-bahan; bahan lainnya dapat didaur-ulang; selebihnya harus dikumpulkan dengan hati-hati dan dikembalikan ke pabriknya. Studi kasus menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip ini dapat diterapkan secara luas di berbagai tempat, seperti di sebuah klinik bersalin kecil di India dan rumah sakit umum besar di Amerika.
Sampah hasil proses industri biasanya tidak terlalu banyak variasinya seperti sampah domestik atau medis, tetapi kebanyakan merupakan sampah yang berbahaya secara kimia.
Produksi Bersih dan Prinsip 4R
Produksi Bersih (Clean Production) merupakan salah satu pendekatan untuk merancang ulang industri yang bertujuan untuk mencari cara-cara pengurangan produk-produk samping yang berbahaya, mengurangi polusi secara keseluruhan, dan menciptakan produk-produk dan limbah-limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologis. Prinsip-prinsip Produksi Bersih adalah:
Prinsip-prinsip yang juga bisa diterapkan dalam keseharian misalnya dengan menerapkan Prinsip 4R yaitu:
• Reduce (Mengurangi); sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.
• Reuse (Memakai kembali); sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.
• Recycle (Mendaur ulang); sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.
• Replace ( Mengganti); teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang barang yang hanya bisa dipakai sekalai dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan, Misalnya, ganti kantong keresek kita dnegan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidka bisa didegradasi secara alami.
http://www.walhi.or.id/kampanye/c emar/sampah/peng_sampah_info

By indah ilmiah

MAKALAH

MAKALAH
STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN THALLOPHYTA
{GANGGANG (ALGA), JAMUR (FUNGI), LUMUT KERAK (LICHENES)}

OLEH:

INDAH ILMIAH
NIM. 07250006

PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
NOVEMBER 2008
KATA PENGANTAR

Kami bersyukur kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Pengasih dan Maha Penyayang atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah Struktur dan Perkembangan Thallophyta {Ganggang (Alga), Jamur (Fungi), Lumut Kerak (Lichenes)} dengan baik.
Pada kesempatan ini kami menyampaikan banyak terima kasih kepada:
Dra. Ngadiani, M.Kes. selaku dosen mata kuliah Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Dan semua pihak yang telah membantu kami, sehingga dapat menyelesaikan Makalah Struktur dan Perkembangan Tumbuhan ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kami sangat berharap adanya saran dan kritik demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.
Walaupun demikian adanya, kami berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Surabaya, 15 November 2008

Penuyusun,

DAFTAR ISI

KATA PENAGNTAR…………………………………………………….. i
DAFTAR ISI………………………………………………………………. ii
BAB I: PENDAHULUAN ……………………………………………… 1
BAB II: STRUKTUR TUBUH THALLOPHYTA………………………… 2
1. STRUKTUR TUBUH ALGA…………………………. 2
1) Struktur tubuh alga hijau (Chloropyta)…………….. 2
1. a. Chlamydomonas………………………………. 3
1. b. Volvox……………………………………… 4
1. c. Spyrogyra…………………………………… 5
1. d. Ulva…………………………………………. 6
2) Struktur tubuh alga coklat (Phaeophyta)…………… 7
2. a. Laminaria…………………………………….. 7
3) Struktur tubuh alga merah (Rodhophyta)………….. 9
3. a. Polysiphonia………………………………….. 9
4) Struktur tubuh alga pirang (Chrysophyta)…………. 10
4. a. Dinobryon…………………………………….. 10

2. STRUKTUR TUBUH JAMUR……………………… 11
3. STRUKTUR TUBUH LUMUT KERAK…………… 12

BAB III: PERKEMBANGAN THALLOPHYATA……………………… 16
1. REPRODUKSI PADA ALGA…………………………. 16
1) REPRODUKSI ALGA HIJAU…………………. 16
1. a. Chlamydomonas…………………………… 16
1. b. Volvox……………………………………… 18
1. c. Spyrogyra……………………………………. 20
1. d. Ulva………………………………………… 21
2) REPRODUKSI ALGA COKLAT…………………. 22
2. a. Laminaria…………………………………….. 22
3) REPRODUKSI ALGA MERAH…………………. 23
4) REPRODUKSI ALGA PIRANG…………………. 24
2. REPRODUKSI PADA JAMUR……………………….. 24
3. REPRODUKSI PADA LUMUT KERAK……………… 25

EVALUASI……………………………………………………………….. 30
GLOSARIUM……………………………………………………………. 31
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………… 32
INDEKS…………………………………………………………………… 33

BAB I
I. PENDAHULUAN

Thallophyta adalah tumbuhan yang belum memiliki daun, akar dan batang yang jelas dan thallophyta merupakan tumbuhan yang berthalus termasuk diantaranya adalah golongan jamur / fungi, bakteri dan ganggang / alga. Yang termasuk golongan Thallophyta adalah ganggang (alga), jamur (fungi), dan lumut kerak (lichenes).
Alga merupakan kelompok organisme yang bervariasi baik bentuk, ukuran, maupun komposisi senyawa kimianya. Alga ini tidak memiliki akar, batang dan daun sejati. Tubuh seperti ini dinamakan talus. Alga bereproduksi dengan aseksual dan seksual. Alga adayang hidup secara soliter dan berkoloni.
Jamur merupakan kelompok organisme eukariotik yang membentuk dunia jamur atau regnum fungi. Jamur pada umumnya multiseluler (bersel banyak). Ciri-ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara makan, struktur tubuh, pertumbuhan, dan reproduksinya.
Lichenes (lumut kerak) merupakan gabungan antara fungi dan alga sehingga secara morfologi dan fisiologi merupakan satu kesatuan. Lumut ini hidup secara epifit pada pohon-pohonan, di atas tanah terutama di daerah sekitar kutub utara, di atas batu cadas, di tepi pantai atau gunung-gunung yang tinggi. Perkembangbiakan lichenes melalui tiga cara, yaitu :
Secara Vegetatif, Aseksual,dan Seksual
BAB II

II. STRUKTUR TUBUH THALLOPHYTA
1. STRUKTUR TUBUH ALGA
Berdasarkan pigmen yang dikandungnya, alga dikelompokkan menjadi 6 fillum yaitu:

Pigmen lain yang terdapat di dalam sel-sel alga adalah:
Fikosianin = warna biru;
Xantofil = warna kuning;
Karoten = warna keemasan;
Fikosantin = warna pirang;
Fikoeritrin = warna merah.

1) Struktur tubuh alga hijau (Chlorophyta)
a. Chlamydomonas
Alga hijau yang uniseluler dan hidup soliter.

http://images.google.co.id/images?um=1&hl=id&q=chlamydomonas&btnG=Cari+Gambar
Chlamidomonas
Bentuk sel bulat telur, memiliki 2 flagel sebagai alat gerak, terdapat 1 vacuola, satu nukleus dan kloroplas. Pada kloroplas yang bentuknya seperti mangkuk terdapat stigma (bintik mata) dan pirenoid sebagai tempat pembentukan zat tepung.

b. Volvox
Clhorophyta berbentuk koloni.


Volvox adalah salah satu spesies ganggang hijau yang berbentuk koloni. Koloni Volvox berbentuk menyerupai bola. Pada sel-sel vegetatif bagian tepi berflagel dua. Koloni sel tersebut dihubungkan satu dengan yang lain melalui benang-benang sitoplasma. Koloni berbentuk bola jumlah antara 500 – 5000 buah. Tiap sel memiliki 2 flagel dan sebuah bintik mata. Koloni merupakan bola berlubang, yang dindingya terdiri atas ratusan atau ribuan sel-sel biflagelata yang terjalin dalam suatu matriks bergelatin. Sel-sel itu umumnya dihubungkan oleh untaian sitoplasma; jika diisolasi, sel-sel ini tidak dapat bereproduksi. Koloni besar yang terlihat di sini akhirnya akan melepaskan kolono “anak” berukuran kecil di dalamnya. Volvox hidup di air tawar misalnya di sawah atau di kolam.

c. Spyrogyra
Chlorophyta berbentuk benang.


Spyrogyra
Spirogyra genus dari ganggang hijau dari ordo Zygnematales. Ia biasa ditemukan di air tawar. Spirogyra mampu berfotosintesis, memiliki sel eukariotik. Pigmen utama yang dikandung alga hijau adalah klorofil. Tubuhnya berbentuk filamen yang tidak bercabang. Panjang tubuhnya mencapai 1 kaki (30,48 cm). Benang tersusun oleh protoplasma yang transparan dan setiap sel memiliki 1 atau lebih kloropas yang memanjang dari ujung ke ujung berbentuk spiral. Pada kloropas yang berbentuk pita terdapat pirenoid. Pirenoid tersebut dikelilingi oleh butiran tepung. Bentuk tubuh seperti benang, dalam tiap sel terdapat kloroplas berbentuk spiral dan sebuah inti.
Sel spirogyra memiliki inti yang terletak di tengah, sitoplasmanya terbungkus oleh dinding sel, serta memiliki vakuola yang besar. Lapisan gelatin yang tipis melindungi seluruh sel sehingga memberikan karakter tertentu pada spirogyra. Pada siang hari, fotosintesis berlangsung cepat dan oksigen yang dihasilkan disimpan diantara filamen. Pada saat itu, Spirogyra akan naik ke permukaan air. Pada malam hari, oksigen dilarutkan kembali ke dalam air.
http://id.wikipedia.org/wiki/Spirogyra
d. Ulva lactuca,
Chlorophyta berbentuk lembaran. Multi seluler.


Chlorophyta ini adalah alga berbentuk lembaran yang terdiri atas dua sel. Diantara ganggang hijau lainnya, sangat subur di area di mana ada banyak nutrisi yang tersedia. Ganggang ini ditemukan di dasar perairan laut dan menempel di dasar dan menempel di batu, Ulva berwarna hijau ke hijau gelap, bentuk seperti lembaran daun.
2) b. Struktur tubuh alga coklat (Phaeophyta)
Contoh:
a.2. Laminaria


Seewead (rumput laut) atau disebut alga coklat adalah rumput laut yang berukuran besar. Suatu thallus rumput laut yang khas terdiri dari suatu holdfast yang menyerupai akar, dan suatu stem / stipe yang menyerupai batang, yang menopang blade yang menyrupai daun. Blade menyediakan sebagian permukaan untuk fotosintesis. Beberapa alga coklat dilengkapi dengan pelanpung yang mempertahankan blade agar tetap berada dekat permukaan air. Jauh dari zona intertidal dalam perairan yang lebih dalam, hidup rumput laut raksasa yang dikenal sebagai kelp. Bagian batang alga coklat ini panjangnya bisa mencapai 60 m.

3) c. Struktur tubuh alga merah (Rodhophyta)
Contoh:
a. 3. Polysiphonia, suatu alga berfilamen



Sebagian besar alga merah adalah multiseluler, dan yang terbesar menjadi bagian dari “rumput laut” bersama alga coklat, meskipun tidak ada alga merah yang sebesar alga coklat raksasa (kelp). Banyak diantara thallus alga merah berfilamen, sering kali bercabang dan saling terpilin dalam pola renda yang rumit, sperti Laminaria. Dasar thallus umumnya terdeferensiasi sebagi sebuah holdfast sederhana.
4) c. Struktur tubuh alga pirang ( Chrysophyta)
Contoh: a. Dinobryon

Alga pirang (golden algae) yang dihasilkan oleh karoten kuning dan cokelat serta pigmen asesoris xantofil. Sel-selnya berciri khas sebagai biflagellata (atau berflgella ganda), di mana kedua flagellanya terpaut dekat salah satu ujung sel tersebut. Dinobryon adalah anggota kelompok alga pirang yang hidupnya di air tawar. Spesies ini membentuk koloni, akan tetapi genus itu juga mencakup spesies yang uniseluler. Sebagian alga pirang adalah uniseluler.
2. STRUKTUR TUBUH JAMUR (FUNGI)
Ciri-ciri jamur:
Jamur merupakan kelompok organisme eukariotik yang membentuk dunia jamur atau regnum fungi. Jamur pada umumnya multiseluler (bersel banyak). Ciri-ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara makan, struktur tubuh, pertumbuhan, dan reproduksinya.
Struktur Tubuh


Struktur tubuh jamur tergantung pada jenisnya. Ada jamur yang satu sel, misalnya khamir, ada pula jamur yang multiseluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter, contohnya jamur kayu. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah.
Hifa adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa. Dinding ini menyelubungi membran plasma dan sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel eukariotik. Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria, dan kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi, adapula hifa yang tidak bersepta atau hifa senositik. Struktur hifa senositik dihasilkan oleh pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan sitoplasma. Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya mengalami modifikasi menjadi haustoria yang merupakan organ penyerap makanan dari substrat; haustoria dapat menembus jaringan substrat.

3. Struktur Tubuh Lumut Kerak (Lhichenes)

.

Struktur tubuh lichenes secara vegetatif terdiri dari
– Soredia, terdapat pada bagian medulla yang keluar melalui celah kulit.
Diameternya sekitar 25 – 100 m, sehingga soredia dapat dengan mudah diterbangkan angin dan akan tumbuh pada kondisi yang sesuai menjadi tumbuhan licenes yang baru. Jadi pembiakan berlangsung dengan perantaraan soredia. Soredia itu sendiri merupakan kelompok kecil sel-sel gangang yang sedang membelah dan diselubungi benang-benang miselium menjadi satu badan yang dapat terlepas dari induknya. Soredia ini terdapat di dalam soralum.
2002 digitized by USU digital library 5
Potongan Lobaria pulmonaria. Bagian hitam yang membengkak disebut cephalodium dan struktur bentuk mahkota adalah soralium dengan bentuk bola kecil soredia di atasnya. Lapisan hijau adalah koloni alga.
– Isidia
Isidia berbentuk silinder, bercabang seperti jari tangan dan terdapat pada kulit luar. Diamaternya 0,01 – 0,03 mdan tingginya antara 0,5 – 3 m. Berdasarkan kemampuannya bergabung dengan thallus, maka dalam media perkembangbiakan, isidia akan menambah luas permukaan luarnya. Sebanyak 25 – 30 % dari spesies foliose dan fructicose mempunyai isidia. Proses pembentukan isidia belum diketahui, tetatpi ianggap sebagai faktor genetika.
– Lobula
Lobula merupakan pertumbuhan lanjutan dari tahllus lichenes yang sering dihasilkan di sepanjang batas sisi kulit luar. Lobula ini dapat berkembang dengan baik pada jenis foliose, Genus Anaptycia, Neproma, Parmelia dan Peltigera. Lobula sangat sukar dibedakan dengan isidia.
– Rhizines
Rhizines merupakan untaian yang menyatu dari hifa yang berwarna kehitam-hitaman yang muncul dari kulit bagian bawah (korteks bawah) dan mengikat thallus ke bagian dalam. Ada dua jenis rhizines yaitu bercabang seperti pada Ctraria, Physcia dan Parmelia dan yang tidak bercanag terdapat pada Anaptycis dan beberapa Parmelia.
– Tomentum
Tomentum memiliki kepadatan yang kurang dari rhizines dan merupakan lembaran serat dari rangkaian akar atau untaian yang renggang. Biasanya muncul pada lapisan bawah seperti pada Collemataceae, Peltigeraceae dan Stictaceae.
– Cilia
Cilia berbentuk seperti rambut, menyerupai untaian karbon dari hifa yang muncul di sepanjang sisi kulit. Cilia berhubungan dengan rhizines dan hanya berbeda pada cara tumbuh saja.
– Cyphellae dan Pseudocyphellae
Cypellae berbentuk rongga bulat yang agak besar serta terdapat pada korteks bawah dan hanya dijumpai pada genus Sticta. Pseudocyphellae
2002 digitized by USU digital library 6
mempunyai ukuran yang lebih kecil dari cyphellae yaitu sekittar 1 m dan terdapat pada korteks bawah spesies Cetraria, Cetralia, Parmelia dan Pasudocyphellaria. Rongga ini berfungsi sebagai alat pernafasan atau pertukaran udara.
– Cephalodia.
Cephalodia merupakan pertumbuhan lanjutan dari thallus yang terdiri dari alga-alga yangg berbedadari inangnya. Pada jenis peltigera aphthosa, cephalodia mulai muncul ketika Nostoc jatuh pada permukaan thallus dan terjaring oleh hifa cephalodia yang berisikan Nostoc biru kehijauan. Jenis ini mampu menyediakan nitrogen thallus seperti Peltigera, Lecanora, Stereocaulon, Lecidea dan beberapa jenis crustose lain.

BAB III
PERKEMBANGAN THALLOPHYTA
1. Reproduksi alga hijau (Chrorophyta)
1. a. Chlamydomonas, uniseluler soliter.
Reproduksi aseksual dengan membentuk zoospora dan reproduksi seksual dengan konjugasi (perhatikan gambar berikut ini).


Siklus hidup Chlamydomonas.
Alga hijau uniseluler ini menunjukkan reproduksi seksual dan juga aseksual. Gamet secara struktural identik, suatu kondisi yang dikenal sebagai isogami.
Reproduksi aseksual dengan membentuk zoospora :
1) Suatu sel Chlamydomonas dewasa adalah haploid.
2) ketiks suatu sel dewasa bereproduksi secara aseksual, sel tersebut akan meresorbsikan flagelanya dan kemudian akan membelah dua kali melali mitosis, membentuk empat sel (lebih banyak lagi pada beberapa spesies)
3) Sel-sel anak ini membentuk flagella dan dinding sel, kemudian dari dinding sel induk muncul zoospora yang mampu berenang. Zoospore itu tumbuh menjadi sel haploid dewasa, yang menyelesaikan siklus hidup aseksual. Reproduksi seksual dipicu oleh kekurangan makanan, pengeringan kolam, atau bebrapa tekananan lainnya.
Reproduksi seksual dengan konjugasi.
4) Didalam dinding sel induk, pembelahan mitosis menghasilkan banyak gamet haploid.
5) Setelah dilepaskan, gamet dari jenis pasangan kawin yang saling berlawanan (ditandai dengan + dan -) berpasangan dan saling menempel. Penyatuan (singami) isogamet terjadi secara perlahan-lahan, yang membentuk zigot diploid.
6) Yang menskresi suatu selubung yang kuat untuk melindungi sel itu dari kondisi yang tidak menguntungkan.
7) Ketika zigot menuntaskan dormasinya, meiosis menghasilkan empat individu haploid (dari dari masing-masing jenis pasangan kawin) yang muncul dari selubung tersebut dan tumbuh menjadi sel-sel dewasa.
1. b. Volvox, uniseluler berkoloni.
Reproduksi aseksual dengan fragmentasi.
Reproduksi aseksual berlangsung dengan cara pementukan anak koloni. Mula-mula sel-sel tertentu membesar, kemudian tumbuh ke arah, dalam membentuk anak koloni-koloni baru ini akan terlepas pada saat koloni induk pecah.

Koloni Volvox yang mengandung anak koloni.

Reproduksi seksual dengan konjugasi sel-sel gamet.
Reproduksi secara seksual terjadi melalui oogami.


Sel-sel tertentu seperti yang membentuk koloni membesar dan berkembang menjadi sel telur. Sperma dihasilkan oleh koloni yang sama atau koloni lain. Selanjutnya sel-sel sperma berenang menuju sel telur dan membuahinya membentuk zigot. Untuk sementara waktu zigot mengalami masa istirahat. Zigot yang bersifat dorman ini memiliki dinding yang tebal dengan ujung tonjolan-tonjolan, seperti duri yang aktif kembali kemudian mengalami meiosis menghasilkan zoospore yang bersifat haploid.

1. c. Spyrogyra Multiseluler berbentuk filament
Reproduksi vegetatif dengan fragmentasi.
Spyrogyra tidak membentuk zoospora ataupun sel berflagela. Setiap sel penyusun filament ganggang ini memiliki kemampuan membelah namun pembelahan sel untuk membentuk filamen baru terjadi secara alami bila filament patah oleh badai atau gangguan lain.
Reproduksi seksual dengan konjugasi.

:(www.e-dukasi.net)
Konjugasi pada Spirogyra
Adapun langkah-langkah konjugasi antara lain
Dua benang saling berdekatan, sel yang berdekatan saling membentuk tonjolan. Ujung kedua tonjolan yang bersentuhan saling melebur membentuk saluran konjugasi. Lewat saluran itu terjadilah aliran protoplasma dari satu sel ke sel yang lain. Kedua plasma melebur, disebut peristiwa plasmogami dan segera diikuti oleh peleburan inti yang disebut kariogami. Hasil peleburan membentuk zigospora diploid. Zigospora mengalami meiosis dan ditempat yang sesuai berkembang menjadi benang Spirogyra baru yang haploid.
1. d. Ulva Chlorophyta berbentuk lembaran.
Berkembangbiak secara vegetatif dengan menghasilkan spora dan spora tumbuh menjadi Ulva yang haploid (n), Ulva haploid disebut gametofit haploid.


Siklus hidup Ulva: suatu contoh pegiliran generasi isomorfik. Generasi seksual haploid (gametofit) dan generasi diploid (sporofit), identik dengan penampakan (isomorfik),
1. Gametofit menghasilkan
2. gamet, membentuk
3. zigot melalui singami.
4. Zigot berkembang menjadi sporofit, kemudian berkembang menjadi sporangia.
5. Sporangia menghasilkan sel-sel reproduksi yang disebut zoospore.
6. Sel-sel ini berkembang secara langsung menjadi gametofit.

2. Reproduksi alga coklat (Paeophyta)
Laminaria


Siklus hidup Laminaria: contoh pegiliran generasi heteromorfik.
1) Sporofit rumput laut ini imumnya ditemukan dalam air tepat dibawah garis pasang terendah, yang menempel pada batu dengan holdfast.
2) Pada awal musim semi, pada akhir musim tumbuh utama, sel-sel pada permukaan daun bekemabang menjadi sporangia yang,
3) Mengahasilkan spora melalui meiosis.
4) Semua zoospore mirip dalam hal struktur, akan tetapi separuh dari mereka dapat berkembang menjdi suatu gametofit jantan dan separuh lagi menjadi gametofit betina. Gametofit itu sama sekali tidak mirip sporofit, filamen pendek bercabangyang tumbuh diatas permukaan batu subtidal, yang sering kali terjalin satu dengan yang lainnya.
5) Gemetofit jantan melepaskan sperma dan gametofit betina menghasilkan sel telur, yang tetap terpaut pada gametofit tersebut. Sel telur mensekresikan sinyal kimia yang menarik sperma spesies yang sama, dengan demikian kemungkinan meningkatkan penyatuan gamet dilautan.
6) Sperma membuahi telur, dan
7) zigot tumbuh menjadi sporofit baru, yang memulai kehidupannya dengan terpaut pada sisa-sisa gametofit betina yang lama.

3. Reproduksi alga merah (Rhodophyta)
Siklus hidup sangat beraneka ragam pada alga merah. Karena tidak memiliki flagella, gamet hanya mengandalkan arus air untuk dapat menyatu. Pegiliran generasi sangat umum terjadi pada alga merah.

4. Reprodoksi alga pirang ( Chrysophyta)
Pada alga pirang genus air tawar Dinobryon, jika kerapatan sel mencapai suatu level yang tinggi, banyak spesies membentuk sista resisten yang dapat tetap bertahan selama beberapa dekade.
2. Reproduksi pada jamur (fungi)
Reproduksi jamur dapat secara seksual (generatif) dan aseksual (vegetatif).
Secara aseksual, jamur menghasilkan spora. Spora jamur berbeda-beda bentuk dan ukurannya dan biasanya uniseluler, tetapi adapula yang multiseluler. Apabila kondisi habitat sesuai, jamur memperbanyak diri dengan memproduksi sejumlah besar spora aseksual. Spora aseksual dapat terbawa air atau angin. Bila mendapatkan tempat yang cocok, maka spora akan berkecambah dan tumbuh menjadi jamur dewasa.
Reproduksi secara seksual pada jamur melalui kontak gametangium dan konjugasi. Kontak gametangium mengakibatkan terjadinya singami, yaitu persatuan sel dari dua individu. Singami terjadi dalam dua tahap, tahap pertama adalah plasmogami (peleburan sitoplasma) dan tahap kedua adalah kariogami (peleburan inti). Setelah plasmogami terjadi, inti sel dari masing-masing induk bersatu tetapi tidak melebur dan membentuk dikarion. Pasangan inti dalam sel dikarion atau miselium akan membelah dalam waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun. Akhimya inti sel melebur membentuk sel diploid yang segera melakukan pembelahan meiosis.
http://www.free.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor
Pendamping/Praweda/Biologi/0024%20Bio%201-5a.htm

3. Reproduksi pasa Lumut Kerak (Lichenes)
Perkembang biakan Lichenes melalui tiga cara;


a. Secara Vegetatif
• Fragmentasi adalah perkembangbiakan dengan memisahkan bagian tubuh yang telah tua dari induknya dan kemudian berkembang manjadi individu baru. Bagian-bagian tubuh yang dipisahkan tersebut dinamakan fragmen.
• Isidia. Kadang-kadang isidia lepas dari thalus induknya yang masing-masing mempunyai simbiont. Isidium akan tumbuh menjadi individu baru jika kondisinya sesuai.
• Soredia adalah kekompok kecil sel-sel ganggang yang sedang membelah dan diselubungi benang-benang miselium menjadi suatu badan yang dapat terlepas dari induknya. Lichenes yang baru, memiliki karakteristik yang sama dengan induknya.

b. Secara Aseksual
Metode reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan spora yang sepenuhnya bergantung kepada pasangan jamurnya. Spora yang aseksual disebut pycnidiospores. Pycnidiospores ukurannya kecil, spora yang tidak motil, yang diproduksi dalam jumlah yang besar disebut pygnidia. Pygnidia ditemukan pada permukaan atas dari tallus yang mempunyai suatu celah kecil yang ternbuka yang disebut Ostiole. Dinding dari pycnidium terdiri dari hifa yang subur dimana jamur pygnidiospore berada pada ujungnya. Tiap pycnidiospore menghasilkan satu hifa jamur jika bertemu dengan alga yang sesuai terjadi perkembangan menjadi Lichenes yang baru.

c. Secara Seksual
Perkembangbiakan seksual pada Lichenes hanya terbatas pada pembiakan jamurnya saja. Jadi, yang mengalami perkembangan secara seksual adalah kelompok jamur yang membangun tubuh Lichenes.
http://blue5black8heart7.wordpress.com/2007/11/28/lichenes/

EVALUASI
1. Apakah yang dimaksud dengan Thallophyta?
2. Sebutkan macam-macam alga!
3. Jelaskan struktur tubuh dan bagian-bagan dari alga hijau!
4. Jelaskan struktur tubuh dan bagian-bagan dari alga coklat!
5. Jelaskan struktur tubuh dan bagian-bagan dari jamur!
6. Jelaskan struktur tubuh dan bagian-bagan dari lumut kerak!
7. Sebutkan cara reproduksi pada alga hijau! Dan jelaskan!
8. Sebutkan cara reproduksi pada alga coklat! Dan jelaskan!
9. Sebutkan cara reproduksi pada jamur! Dan jelaskan!
10. Sebutkan cara reproduksi pada lumut kerak! Dan jelaskan!

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Reece, Mitchell. Biologi/ Edisi Kelima/ Jilid 3. Jakarta: Erlangga,2004
Hamim,C. Sulistyaningsih Yohana, Perkembangan Tumbuhan/ Edisi Kesatu, Jakarta: Universitas Terbuka.
Kamus Lengkap Biologi, Surabaya: Tim Kashiko,2002
http://www.google.com

GLOSARIUM
Flagella :tonjolan gerak yang dapat digerakkan kesegala arah
Fragmentasi : pembiakan aseksual denag jalan membelah menjadi beberapa bagian
Isogami :semua ge\amet secara morfologi tampak serupa, tidak dapat dibedakan antara gamet jantan dan gamet betina walaupun secara genetic berbeda. Gamet dibedakan dengan notasi + dan gamet –
Konjugasi :bentuk pembiakan seksual antara dua sel yang sama bentuk
Oogami :gamet berukuran besar tidak berflagella sehingga bersifat nono motil, sedangkan gamet yang berukuran kecil ada yang berflagella atau tidak berflagella, gamet yang berukuran besar dan non motil tesebut ditentukan sebagai sel telur sedangkan yang lebih kecil sebagi sel sperma
Thallophyta :suatu phylum dari tumbuhan yang tubuhnyadibina atas benag halus yang disebut thallus
Thallus :benang halus, dibina atas sel-sel memanjang yang bersifat muda, tidak tergenerasi

INDEKS

Blade, 8,9
Chepalodia, 15
Chlamydomonas, 3,16
Chloropyta, 2,3,4,5,6,7
Chrysophyta, 2,10,24
Cilia,14
Cyphellae, 14
Dinobryon, 10,24
Fragmentasi, 18,25
Haustoria, 12
Heteremorfik, 23
Hifa senositik, 12
Hifa, 12
Holdfast, 8,23
Isidia, 13,25
Isomorfik, 21
Kelp, 9
Konjugasi, 16,17,18,20,24
Laminaria, 7,22
Lichesnes, 1,12,25,26
Lobula, 13
Miselium, 12
Oogami, 18
Ostiole, 26
Phaeophyta, 2,7,22
Plasmogami, 24
Pseudocyphellae, 14
Pycnidiospores, 26
Pygnidia, 26
Rhizines, 14
Rhodophyta, 2,9,23
Septa, 12
Soredia, 12,25
Spyrogyra, 5,6,20
Stem/ stipe, 8
Thallophyta, 1
Tomentum, 14
Ulva lactuca, 6
Ulva, 7,21
Volvox, 4,18

By indah ilmiah

Divisi Thallophyta / Thalopita / Thalophita

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Divisi Thallophyta / Thalopita / Thalophita
Divisi thallophyta adalah tumbukan yang memiliki thalus termasuk diantaranya adalah golongan jamur / fungi, bakteri dan ganggang / alga.

Definisi Thallophyta : Adalah tumbuhan yang belum memiliki daun, akar dan batang yang jelas.

CIRI-CIRI UMUM JAMUR
Jamur merupakan kelompok organisme eukariotik yang membentuk dunia jamur atau regnum fungi. Jamur pada umumnya multiseluler (bersel banyak). Ciri-ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara makan, struktur tubuh, pertumbuhan, dan reproduksinya.

Struktur Tubuh

Struktur tubuh jamur tergantung pada jenisnya. Ada jamur yang satu sel, misalnyo khamir, ada pula jamur yang multiseluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter, contohnyojamur kayu. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah.

Gbr. Hifa yang membentuk miselium dan tubuh buah

http://www.free.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0024%20Bio%201-5a.htm

Hifa adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa. Dinding ini menyelubungi membran plasma dan sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel eukariotik.
Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau
septa. Septa mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria, dan kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi, adapula hifa yang tidak bersepta atau hifa senositik.
Struktur hifa senositik dihasilkan oleh pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan sitoplasma.
Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya mengalami modifikasi menjadi
haustoria yang merupakan organ penyerap makanan dari substrat; haustoria dapat menembus jaringan substrat.

Pertumbuhan dan Reproduksi


Reproduksi jamur dapat secara seksual (generatif) dan aseksual (vegetatif). Secara aseksual, jamur menghasilkan spora. Spora jamur berbeda-beda bentuk dan ukurannya dan biasanya uniseluler, tetapi adapula yang multiseluler. Apabila kondisi habitat sesuai, jamur memperbanyak diri dengan memproduksi sejumlah besar spora aseksual. Spora aseksual dapat terbawa air atau angin. Bila mendapatkan tempat yang cocok, maka spora akan berkecambah dan tumbuh menjadi jamur dewasa.

Reproduksi secara seksual pada jamur melalui kontak gametangium dan konjugasi. Kontak gametangium mengakibatkan terjadinya singami, yaitu persatuan sel dari dua individu. Singami terjadi dalam dua tahap, tahap pertama adalah plasmogami (peleburan sitoplasma) dan tahap kedua adalah kariogami (peleburan inti). Setelah plasmogami terjadi, inti sel dari masing-masing induk bersatu tetapi tidak melebur dan membentuk dikarion. Pasangan inti dalam sel dikarion atau miselium akan membelah dalam waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun. Akhimya inti sel melebur membentuk sel diploid yang segera melakukan pembelahan meiosis.

PERKEMBANGBIAKAN LICHENES

Perkembangbiakan lichenes melalui tiga cara, yaitu :

A. Secara Vegetatif

Fragmentasi

Fragmentasi adalah perkembangbiakan dengan memisahkan bagian tubuh

yang telah tua dari induknya dan kemudian berkembang menjadi individu baru.

Bagian-bagian tubuh yang dipisahkan tersebut dinamakan fragmen.

Pada beberapa fruticose lichenes, bagian tubuh yang lepas tadi, dibawa

oleh angin ke batang kayu dan berkembang tumbuhan lichenes yang baru.

Reproduksi vegetatif dengan cara ini merupakan cara yang paling produktif untuk

peningkatan jumlah individu.

Isidia

Kadang-kadang isidia lepas dari thallus induknya yang masing-masing

mempunyai simbion. Isidium akan tumbuh menjadi individu baru jika kondisinya

sesuai.

Soredia

Soredia adalah kelompok kecil sel-sel ganggang yang sedang membelah

dan diselubungi benag-benang miselium menjadi suatu badan yang dapat

terlepas dari induknya. Dengan robeknya dinding thallus, soredium tersebar

seperti abu yang tertiup angin dan akan tumbuh lichenes baru. Lichenes yang

baru memiliki karakteristik yang sama dengan induknya.

B. Secara Aseksual

Metode reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan spora yang

sepenuhnya bergantung kepada pasangan jamurnya. Spora yang aseksual

disebut pycnidiospores.

Pycnidiospores itu ukurannya kecil, spora yang tidak motil, yang

diproduksi dalam jumlah yang besar disebut pygnidia. Pygnidia ditemukan pada

permukaan atas dari thallus yang mempunyai suatu celah kecil yang terbuka

yang disebut Ostiole. Dinding dari pycnidium terdiri dari hifa yang subur dimana

jamur pygnidiospore berada pada ujungnya. Tiap pycnidiospore menghasilkan

satu hifa jamur. Jika bertemu dengan alga yang sesuai terjadi perkembangan

menjadi lichenes yang baru.

C. Secara Seksual

Perkembangan seksual pada lichenes hanya terbatas pada pembiakan

jamurnya saja. Jadi yang mengalami perkembangan secara seksual adalah

kelompok jamur yang membangun tubuh lichenes.

By indah ilmiah

Divisi Thallophyta / Thalopita / Thalophita

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

  1. Divisi Thallophyta / Thalopita / Thalophita
    Divisi thallophyta adalah tumbukan yang memiliki thalus termasuk diantaranya adalah golongan jamur / fungi, bakteri dan ganggang / alga.

Definisi Thallophyta : Adalah tumbuhan yang belum memiliki daun, akar dan batang yang jelas.

Kita telah mengenal jamur dalam kehidupan sehari-hari meskipun tidak sebaik tumbuhan lainnya. Hal itu disebabkan karena jamur hanya tumbuh pada waktu tertentu, pada kondisi tertentu yang mendukung, dan lama hidupnya terbatas. Sebagai contoh, jamur banyak muncul pada musim hujan di kayu-kayu lapuk, serasah, maupun tumpukan jerami. namun, jamur ini segera mati setelah musim kemarau tiba. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia telah mampu membudidayakan jamur dalam medium buatan, misalnya jamur merang, jamur tiram, dan jamur kuping.

CIRI-CIRI UMUM JAMUR
Jamur merupakan kelompok organisme eukariotik yang membentuk dunia jamur atau regnum fungi. Jamur pada umumnya multiseluler (bersel banyak). Ciri-ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara makan, struktur tubuh, pertumbuhan, dan reproduksinya.

1. Struktur Tubuh

Struktur tubuh jamur tergantung pada jenisnya. Ada jamur yang satu sel, misalnyo khamir, ada pula jamur yang multiseluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter, contohnyojamur kayu. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah.


<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

http://www.free.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0024%20Bio%201-5a.htm

Hifa adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa. Dinding ini menyelubungi membran plasma dan sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel eukariotik.
Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria, dan kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi, adapula hifa yang tidak bersepta atau hifa senositik.
Struktur hifa senositik dihasilkan oleh pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan sitoplasma.
Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya mengalami modifikasi menjadi
haustoria yang merupakan organ penyerap makanan dari substrat; haustoria dapat menembus jaringan substrat.

2. Cara Makan dan Habitat Jamur
Semua jenis jamur bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak memangsa dan mencernakan makanan. Clntuk memperoleh makanan, jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena jamur merupakan konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit. Lihat Gambar 5.3.

a. Parasit obligat
merupakan sifat jamur yang hanya dapat hidup pada inangnya,
sedangkan di luar inangnya tidak dapat hidup. Misalnya,
Pneumonia
carinii (khamir yang menginfeksi paru-paru penderita AIDS).

b. Parasit fakultatif
adalah jamur yang bersifat parasit jika mendapatkan inang yang
sesuai, tetapi bersifat saprofit jika tidak mendapatkan inang yang
cocok.

c. Saprofit
merupakan jamur pelapuk dan pengubah susunan zat organik yang
mati. Jamur saprofit menyerap makanannya dari organisme yang telah
mati seperti kayu tumbang dan buah jatuh. Sebagian besar jamur
saprofit
mengeluar-kan enzim hidrolase pada substrat makanan untuk
mendekomposisi molekul kompleks menjadi molekul sederhana sehingga
mudah diserap oleh hifa. Selain itu, hifa dapat juga langsung
menyerap bahanbahan organik dalam bentuk sederhana yang
dikeluarkan oleh inangnya.

Cara hidup jamur lainnya adalah melakukan simbiosis mutualisme. Jamur yang hidup bersimbiosis, selain menyerap makanan dari organisme lain juga menghasilkan zat tertentu yang bermanfaat bagi simbionnya. Simbiosis mutualisme jamur dengan tanaman dapat dilihat pada mikoriza, yaitu jamur yang hidup di akar tanaman kacang-kacangan atau pada liken.

Jamur berhabitat pada bermacammacam lingkungan dan berasosiasi dengan banyak organisme. Meskipun kebanyakan hidup di darat, beberapa jamur ada yang hidup di air dan berasosiasi dengan organisme air. Jamur yang hidup di air biasanya bersifat parasit atau saprofit, dan kebanyakan dari kelas Oomycetes.


3. Pertumbuhan dan Reproduksi
Reproduksi jamur dapat secara seksual (generatif) dan aseksual (vegetatif). Secara aseksual, jamur menghasilkan spora. Spora jamur berbeda-beda bentuk dan ukurannya dan biasanya uniseluler, tetapi adapula yang multiseluler. Apabila kondisi habitat sesuai, jamur memperbanyak diri dengan memproduksi sejumlah besar spora aseksual. Spora aseksual dapat terbawa air atau angin. Bila mendapatkan tempat yang cocok, maka spora akan berkecambah dan tumbuh menjadi jamur dewasa.

Reproduksi secara seksual pada jamur melalui kontak gametangium dan konjugasi. Kontak gametangium mengakibatkan terjadinya singami, yaitu persatuan sel dari dua individu. Singami terjadi dalam dua tahap, tahap pertama adalah plasmogami (peleburan sitoplasma) dan tahap kedua adalah kariogami (peleburan inti). Setelah plasmogami terjadi, inti sel dari masing-masing induk bersatu tetapi tidak melebur dan membentuk dikarion. Pasangan inti dalam sel dikarion atau miselium akan membelah dalam waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun. Akhimya inti sel melebur membentuk sel diploid yang segera melakukan pembelahan meiosis.

4. Peranan Jamur
Peranan jamur dalam kehidupan manusia sangat banyak, baik peran yang merugikan maupun yang menguntungkan. Jamur yang menguntungkan meliputi berbagai jenis antara lain sebagai berikut.
a. Volvariella volvacea (jamur merang) berguna sebagai bahan pangan
berprotein tinggi.
b.
Rhizopus dan Mucor berguna dalam industri bahan makanan, yaitu
dalam pembuatan tempe dan oncom.
c. Khamir
Saccharomyces berguna sebagai fermentor dalam industri
keju, roti, dan bir.

d. Penicillium notatum berguna sebagai penghasil antibiotik.
e. Higroporus dan Lycoperdon perlatum berguna sebagai dekomposer.

Di samping peranan yang menguntungkan, beberapa jamur juga mempunyai peranan yang merugikan, antara lain sebagai berikut.
a.
Phytium sebagai hama bibit tanaman yang menyebabkan penyakit
rebah semai.

b.
Phythophthora inf’estan menyebabkan penyakit pada daun tanaman
kentang.
c. Saprolegnia sebagai parasit pada tubuh organisme air.
d. Albugo merupakan parasit pada tanaman pertanian.
e. Pneumonia c
arinii menyebabkan penyakit pneumonia pada paru-paru
manusia.
f.
Candida sp. penyebab keputihan dan sariawan pada manusia.

http://www.free.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0024%20Bio%201-5a.htm

thursday, november 6 2008. 10.00 AM

By indah ilmiah

STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN ALGA

STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN ALGA

Oleh:

Indah Ilmiah

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS METEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA

Alga (Protista Mirip Tumbuhan)

Alga merupakan kelompok organisme yang bervariasi baik bentuk, ukuran, maupun komposisi senyawa kimianya. Alga ini ada berbentuk uniseluler (contoh Chlorococcus sp), koloni (Volvox sp), benang (filamen) (contoh Spyrogyra sp) serta bercabang atau pipih (contoh Ulva sp, Sargasum sp dan Euchema sp).

Ciri-ciri lainnya pada alga adalah, alga ini tidak memiliki akar, batang dan daun sejati. Tubuh seperti ini dinamakan talus. Itulah sebabnya alga tidak dapat digolongkan sebagai tumbuhan (plantae). Di dalam sel alga terdapat berbagai plastida yaitu organel sel yang mengandung zat warna (pigmen). Plastida yang terdapat pada alga terutama kloroplas mengandung pigmen klorofil yang berperan penting dalam proses fotosintesis. Sehingga alga bersifat autrotof karena dapat menyusun sendiri makanannya berupa zat organik dan zat-zat anorganik.

Pigmen lain yang terdapat di dalam sel-sel alga adalah:

Fikosianin

=

warna biru;

Xantofil

=

warna kuning;

Karoten

=

warna keemasan;

Fikosantin

=

warna pirang;

Fikoeritrin

=

warna merah.

Berdasarkan pigmen yang dikandungnya, alga dikelompokkan menjadi 6 fillum yaitu:

http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php?moid=134&fname=%20bio_106_kb2_hal19.htm

23-09-2008/03:00 PM

Protista adalah kelompok organisme yang memiliki ukuran tubuh mikro. Kingdom protista terdiri atas kelompok makhluk hidup yang mempunyai karakteristik peralihan antara hewan dan tumbuhan, contohnya adalah amuba.

Protista merupakan kelompok organisme yang memikili ukuran tubuh mikro, sehingga untuk mengamati struktur morfologi tubuhnya harus menggunakan mikroskop. Walaupun protista termasuk organisme uniseluler, mereka memiliki peranan baik dalam kehidupan manusia.

Kerajaan protista terdiri atas kelompok makhluk hidup yang memiliki karakteristik peralihan antara tumbuhan dan hewan. Kingdom protista terkadang tersusun atas makhluk hidup uniseluler yang mempunyai inti (nukleus) dan organel yang jelas.

Protista terdiri atas:

1. Spesies uniseluler yang membentuk Protozoa
2. Alga uniseluler (kecuali alga ganggang biru)
3. Beberapa fungi sel satu.

Namun, ada protista yang pengelompokannya berubah-ubah karena ada bentuk beralihan antara alga dan Protozoa serta antara Protozoa dan fungi. Alasan ini adalah alasan utama kenapa protista sulit dibedakan dengan jelas.

Alga, adalah organisme yang dapat menghasilkan oksugen melalui proses fotosintesa dan mengandung klorofil. Beberapa anggitanya ada yang multi seluler dan ada yang uniseluler. Anggota yang uniseluler ini berbentuk benang, koloni, atau siositik. Sedangkan protista yang tersusun multiseluler, berbentuk benang bercabang yang disebut miselium. Protista yang tersusun multiseluler lainnya adalah jamur sinositik.

Protozoa memiliki inti sel dan organel sel lainnya, seperti nukleus, retikulum endiplasma, mitokondria, badan golgi, DNA yang bergabung dengan protein, dan sentriol. Protozoa juga memiliki flagela dan silia sebagai alat bergerak. Protozoa mampu membuat kaki semu yang mampu melakukan pembelahan meiosis dan mitosis.

Protozoa uniseluler heterotrop, dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu:

1. Mastigophora, memiliki satu flagela dan diantaranya adalah Trypanosoma brusei.
2. Sarcodina, yang mirip dengan amuba.
3. Ciliophora, memiliki stuktur silia termasuk diantaranya Paramecium dan stentor.
4. Phylum Myxophyta, yang bereproduksi dengan menyebarkan spora.

Masalah klasifikasi ini menjadi rumit ketika Euglena yang memiliki kloroplas bersintesis tapi juga mencerna makanan di kegelapan, dan Astasia yang sama dengan Euglena tapi kurang punya kloroplas. Ahli biologi mengatakan mereka adalah Protozoa dan sebagian mengatakan mereka adalah alga.

http://www.pecintakucing.com/kkprot.htm

23-09-2008/03:00 PM

Protista merupakan organisme peralihan antara monera dan organisme lain baik hewan maupun tumbuhan, protista ada yang mirip hewan (Protozoa), Protista mirip tumbuhan (Alga) dan Jamur lendir.

Protozoa berdasarkan alat gerak yang dimiliki dibagi dalam empat filum: Mastigophora (Flagellata), Rhizopoda, Cilliata dan Sporozoa. Protista hidup di lingkungan air.

Protozoa organisme bersel satu ukuran 3 – 100 mikron, bersifat heterotrof tempat hidup air tawar dan tempat basah yang banyak mengandung bahan organik.

Flagellata ada yang hidup bebas, mempunyai alat gerak (flagel) yang bersifat parasit antara lain jenis Trypanosoma.

Cilliata ada yang hidup bebas, bersel satu, tubuh oval hidup di tempat bersih, ada yang bersifat parasit tubuh dikelilingi oleh adanya rambut getar (silia). Contoh Paramecium, berkembangbiak secara seksual dan aseksual.

Sporozoa merupakan parasit, dapat membentuk spora tidak memiliki alat gerak.
Daur hidup pada tubuh manusia:
Sporozoit –> tubuh manusia –> sel hati –> merozoit –> menyerang sel darah merah –> merozoit –> membentuk gametosit.
Pada tubuh nyamuk Anopheles:
Gametosit –> masuk tubuh nyamuk –> usus nyamuk –> gamet –> mikrogamet + makrogamet –> zigot –> menerobos dinding usus nyamuk –> oosit –> menghasilkan sporozoit –> sporozoit sampai ke dalam kelenjar air liur nyamuk.

Protista mirip tumbuhan memiliki klorofil. Yang tergolong kelompok ini alga. Tubuh alga disebut talus, tidak tergolong plantae.

Pembagian berdasarkan pigmen yang dimiliki antar lain:
Chlorophyta, Phaeophyta, Rhodophyta, Chrysophyta, Phyrophyta, Euglenophyta.

Chlorophyta: hidup di air tawar,bentuk benang/lembaran reproduksi secara pembelahan biner, fragmentasi dan konjugasi.

Phaeophyta: alga coklat mengandung fikosianin dan klorofil, reproduksi dengan fragmentasi.

Rhodophyta: alga merah, hidup di perairan (laut) mengandung fikoeritrin dan klorofil. dapat dibuat agar-agar.

Chrysophyta: hidup diair tawar dan laut. Contoh Diatom.

Phyrophyta: ganggang api, hidup di laut dan dapat mengeluarkan cahaya.

Euglenophyta: hidup di air tawar, organisme mirip hewan dan mirip tumbuhan, mempunyai flagel dan klorofil contoh Euglena.

Myxomycota memiliki ciri: tubuh vegetatif seperti lendir/plasmodium, tidak ada dinding sel, reproduksi generatif dengan singami.
Contoh: Physarium, Arcyria, Dyctyostelium

Oomycota: ciri-ciri hifa tidak bersekat, dinding sel dari selulosa, reproduksi aseksual membentuk zoospora reproduksi seksu

al dengan membentuk oospora.
Contoh: Saprolegnia, Phytopthora, Pythium.

http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php?moid=134&fname=%20bio_106_penutup.htm

  1. Sistem klasifikasi algae ada bermacam-macam. Seiring dengan majunya ilmu pengetahuan terutama dalam penelitian fisiologi, biokimia, dan penggunaan mikros- kop elektron, maka klasifikasi algae ke dalam divisinya, kini didasarkan pada:
    1. pigmentasi,
    2. hasil fotosintesis,
    3. flagelasi,
    4. sifat fisik dan kimia dinding sel,
    5. ada atau tidak adanya inti sejati.

Atas dasar hal tersebut, Smith membagi algae menjadi; Divisi: Chlorophyta, Euglenophyta, Pyrrophyta, Chrysophyta, Phaeophyta, Rhodophyta dan Cyanophyta. Pyrrophyta, Chrysophyta,dan Euglenophyta termasuk Protista (Protista algae); Cyanophyta termasuk Monera.

  1. Algae mempunyai bermacam-macam bentuk tubuh:
    1. Bentuk uniseluler: bentuk uniseluler yang berflagela dan yang tidak berflagela.
    2. Bentuk multiseluler:
      1. a. koloni yang motil, b. koloni yang kokoid
      2. Agregasi: bentuk palmeloid, dendroid, dan rizopoidal.
      3. Bentuk filamentik: filamen sederhana, filamen bercabang, filamen heterotrikh, filamen pseudoparenkhimatik yang uniaksial dan multiaksial.
      4. Bentuk sifon/pipa.
      5. Pseudoparenkhimatik
  2. Reproduksi
    1. Vegetatif: fragmentasi, pembelahan sel, pembentukan hormogonia.
    2. Aseksual: pembentukan mitospora, zoospora, aplanospora, hipnospora, stadium pamela.
    3. Seksual: isogami, heterogami yang terdiri dari anisogami dan oogami, aplanogami, autogami.
  3. Pergantian keturunan
    1. Pergantian keturunan haplobiontik terdiri dari: pergantian keturunan yang haplontik dan diplontik.
    2. Pergantian keturunan yang isomorfik dan heteromorfik.

Kegiatan Belajar 2
Divisi: Chlorophyta, Phaeophyta, Rhodophyta, Cyanophyta

I. Divisi Chlorophyta

Ciri-ciri

  1. Pigmen, khlorofil a dan b, santofil, dan karoten, khlorofil terdapat dalam jumlah yang banyak sehingga ganggang ini berwarna hijau rumput.
  2. Hasil fotosintesis berupa amilum dan tersimpan dalam khloroplas.
  3. Khloroplas berjumlah satu atau lebih; berbentuk mangkuk, bintang, lensa, bulat, pita, spiral dsb.
  4. Sel berinti sejati, satu atau lebih.
  5. Sel kembara mempunyai 2 atau 4 flagela sama panjang, bertipe whiplash.
  6. Dinding sel mengandung selulose.
  7. Bentuk talus/struktur vegetatif
    1. uniseluler motil/berflagela: Chlamydomonas sp.
    2. uniseluler nonmotil/kokoid: Chlorella sp.
    3. koloni motil (sel-sel dalam koloni mempunyai flagela) Volvox sp
    4. koloni nonmotil (kokoid ): Pediastrum sp., Hydrodictyon sp.
    5. palmeloid: Tetraspora sp.
    6. dendroid: Prasinocladus sp.
    7. berbentuk filamen: bercabang: Cladophora sp.
    8. tidak bercabang: Oedogonium sp., Spirogyra sp.
    9. heterotrikh: Coleochaeta sp., Stigeoclonium sp.
    10. berbentuk helaian/lembaran yang distromatik: Ulva sp.
    11. lembaran yang monostromatik: Monostroma sp.
    12. berbentuk silinder yang beruang di tengah: Enteromorpha
    13. berbentuk sifon/spnositik: Caulerpa sp., Codium sp.

Perkembangbiakan

  1. secara vegetatif: dengan fragmentasi talusnya
  2. secara aseksual: dengan pembentukan zoospora, aplanospora, hipnospora, autospora.
  3. secara seksual: isogami, Anisogami, oogami, aplanogami.

Chlorophyta dibagi menjadi 2 kelas, yaitu Chloropyceae dan Charophyceae
Menurut Smith (1955) Chlorophyceae dibagi menjadi 12 bangsa, yaitu: Volovocales, Tetrasporales, Ulothrichales, Ulvales, Schizogoniales (Prasiolales) Cladophorales, Oedogoniales, Zygnematales, Chlorococcales, Siphonales, Dasycladales dan Siphonocladales. Oleh beberapa penulis, Tetrasporales dan Volovocales sering disatukan menjadi satu bangsa, yaitu Volvocales dan Tetrasporales dianggap sebagai anak bangsa dan Volvocales. Dalam hal ini, mereka berpendapat bahwa kedua bangsa tersebut hanya mempunyai perbedaan kecil saja.

Tempat hidup

Sebagian besar 90% merupakan algae air tawar terdapat pula di tanah atau di dinding tembok yang lembab, di atas batang pohon dan dapat pula sebagai epifil (pada permukaan daun).

Charophycaea

  1. Tubuh merupakan talus yang tegak, beruas dan berbuku-buku dan bercabang. Cabang yang pertumbuhannya tak terbatas keluar dari buku-buku tersebut dan dari setiap buku keluar cabang yang pertumbuhannya terbatas, yaitu cabang lateral (filoid) yang letaknya melingkari buku tersebut. Tubuh ini sering diliputi oleh CaCO3.
  2. Reproduksi.
    1. secara seksual: dilakukan dengan oogami. Alat kelamin betina dikelilingi benang-benang steril yang letaknya melingkar hingga membentuk spiral. Alat kelamin jantan, terdiri dari satu sel, masing-masing anteridium disatukan dalam filamen yang uniseriate dan dibungkus oleh selubung yang terdiri dari 8 sel.
    2. secara vegetatif: dengan membentuk bintang-bintang amilum dan bulbus.

Dengan melihat struktur alat kelamin dan adanya stadium protenema dalam perkembangan zigot, struktur vegetatif dari tubuhnya, maka beberapa ahli mengatakan bahwa kedudukan Chara berada antara Thallophyta dan Bryophyta. Jenis-jenis yang masih hidup adalah Chara spp dan Nitella spp kesemuanya hidup di air tawar.

II. Divisi Phaeophyta
Hanya terdiri dari satu kelas : Phaeophyceae

Ciri-ciri

  1. Tubuh selalu berupa talus yang multiseluler yang berbentuk filamen, lembaran atau menyerupai semak/pohon yang dapat mencapai beberapa puluh meter, terutama jenis-jenis yang hidup di lautan daerah beriklim dingin.
  2. Set vegetatif mengandung khloroplast berbentuk bulat, bulat panjang, seperti pita; mengandung khlorofil a dan khlorofil c serta beberapa santofil misalnya fukosantin. Cadangan makanan berupa laminarin dan manitol. Dinding sel mengandung selulose dan asam alginat.

Reproduksi

Sel reproduksi yang motil baik zoospora ataupun zoogamet berflagela 2 buah, tidak sama panjang dan terletak dibagian lateral dari sel, bertipe whiplash dan tinsel. Reproduksi aseksual dilakukan dengan pembentukan zoospora atau aplanospora. Reproduksi seksual dilakukan secara isogami, anisogami atau oogami.

Daur hidup

Jenis-jenis dari bangsa-bangsa dalam Phaeophyceae mempunyai daur hidup dengan pergantian keturunan, kecuali jenis-jenis dari bangsa Fucales. Ada tiga tipe pergantian keturunan, yaitu: isomorfik (Dictyola sp.), heteromorfik (Laminaria sp). Dan diplontik (Sargassum sp.)

Tempat hidup

Sebagian besar hidup di laut hanya ada beberapa jenis saja yang hidup di air tawar.

III. Divisi Rhodophyta
Hanya mempunyai satu kelas, yaitu Rhodophyceae.

Ciri-ciri

  1. Sel mempunyai dinding yang terdiri dari selulose dan agar atau karagen.
    Rhodophyceae tidak pernah menghasilkan sel-sel berflagela.
  2. Pigmen
    Khlorofil: terdiri dari khlorofil a dan d.
    Fikobilin: fikoeritrin dan fikosianin yang sering disebut pigmen aksesoris.
    – karoten
    Pigmen-pigmen tersebut terdapat dalam kloroplas
  3. Cadangan makanan berupa tepung flaridea dan terdapat diluar khloroplas.
  4. Talus
    Hampir semuanya multiseluler, hanya 2 marga saja yang uniseluler. Talus yang multiseluler berbentuk filamen silinder ataupun helaian. Pada dasarnya talus yang multiseluler, terutama yang tinggi tingkatannya terdiri dari filamen-filamen yang bercabang-cabang dan letaknya sedemikian rupa hingga membentuk talus yang pseudoparenkhimatik. Talus umumnya melekat pada substrat dengan perantaraan alat pelekat. Pada Rhodophyta yang tinggi tingkatannya ada 2 tipe talus: monoaksial dan multiaksial.

Reproduksi

Reproduksi secara vegetatif dilakukan dengan fragmentasi. Rhodopyceae membentuk bermacam-macam spora, karpospora (spora seksual), sporta, netral, monospora. Tetraspora, bispora, dan polispora.

Pergantian keturunan

Pada yang tinggi tingkatannya terdiri dari 2 tipe, yaitu bifasik dan trifasik.

  1. Bifasik: inti zigot langsung mengadakan meiosis; hingga menghasilkan karposporafit haploid yang tumbuh pada gametofitnya atau inti zigot membelah mitosis hingga membentuk karposporangium yang intinya diploid inti karposporangium mengadakan meiosis dan membentuk karpospora yang haploid. Karposporofit berada pada gametofit.
  2. Trifasik: inti zigot hanya membelah mitosis, membentuk karposporangium dengan karpospora yang diploid. Karposporofit terdapat pada gametofit, karpospora yang diploid tumbuh menjadi tetrasporofit yang diploid dan hidup bebas, tetrasporangium yang terbentuk intinya membelah meiosis dan menghasilkan 4 spora yang haploid (tertraspora). Tetraspora tumbuh menjadi gametofit. Gametofit dan tetrasporofit umumnya isomorfik.

http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail2&ID=57

Habitat Hidup Alga
Alga adalah salah satu organisme yang dapat tumbuh pada rentang kondisi yang luas di permukaan bumi. Alga biasanya ditemukan pada tempat-tempat yang lembab atau benda-benda yang sering terkena air dan banyak hidup pada lingkungan berair di permukaan bumi. Alga dapat hidup hampir di semua tempat yang memiliki cukup sinar matahari, air dan karbon-dioksida.

http://kamase.org/2007/01/02/membuat-biodiesel-dari-tumbuhan-alga/

2008

By indah ilmiah

STRUKTUR PERKEMBANGAN ALGA

Pengelompokan alga berdasarkan pigmentasi sebagai berikut:

1.

Chlorophyta (alga hijau)

Alga ini merupakan kelompok alga yang paling beragam karena ada yang bersel tunggal, koloni dan bersel banyak. Pigmen yang dimilikinya adalah klorofil yang mengandung karoten. Banyak terdapat di danau, kolam tetapi sebagian ada juga yang hidup di laut.

Beberapa contoh alga hijau yang sering Anda jumpai di kolam sekitarmu antara lain:

a. Chlorophyta bersel tunggal tidak bergerak

1.

Chlorella
Organisme ini banyak ditemukan sebagai plankton air tawar. Ukuran tubuh mikroskopis, bentuk bulat, berkembangbiak dengan pembelahan sel.
Peranannya bagi kehidupan manusia antara lain, digunakan dalam penyelidikan metabolisme di laboratorium. Juga dimanfaatkan sebagai bahan untuk obat-obatan, bahan kosmetik dan bahan makanan. Serbuk
Chlorella dalam industri obat-obatan dimasukkan dalam kapsul dan dijual sebagai suplemen makanan dikenal dengan “Sun Chlorella”. Pengembangannya saat ini di kolam-kolam (contohnya di Pasuruan)
2.

Chlorococcum
Tubuh bersel satu, tempat hidup air tawar, bentuk bulat telur, setiap sel memiliki satu kloroplas bentuk mangkuk. Reproduksi dengan membentuk zoospora (secara aseksual)

b. Chlorophyta bersel tunggal dapat bergerak

1.

Chlamidomonas
Bentuk sel bulat telur, memiliki 2 flagel sebagai alat gerak, terdapat 1 vacuola, satu nukleus dan kloroplas. Pada kloroplas yang bentuknya seperti mangkuk terdapat stigma (bintik mata) dan pirenoid sebagai tempat pembentukan zat tepung.
Reproduksi aseksual dengan membentuk zoospora dan reproduksi seksual dengan konjugasi (perhatikan gambar berikut ini).

Gambar 9.

a. Bentuk sel Chlamydomonas
b. Daur hidup Chlamydomonas

c.

Chlorophyta berbentuk koloni tidak bergerak
Contoh:
Hydrodictyon
Hydrodictyon banyak ditemukan di dalam air tawar dan koloninya berbentuk seperti jala. Ukuran cukup besar sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang. Reproduksi vegetatif dengan zoospora dan fragmentasi. Fragmentasi dilakukan dengan cara melepas sebagian koloninya dan membentuk koloni baru. Sedangkan reproduksi generatif dengan konjugasi.

d.

Chlorophyta berbentuk koloni dapat bergerak
Contoh:
Volvox
Volvox ditemukan di air tawar, koloni berbentuk bola jumlah antara 500 – 5000 buah. Tiap sel memiliki 2 flagel dan sebuah bintik mata. Reproduksi aseksual dengan fragmentasi dan seksual dengan konjugasi sel-sel gamet.

Gambar 10. Konjugasi sel gamet Volvox

e.

Chlorophyta berbentuk benang
Contoh:
1.

Spyrogyra
Ganggang ini didapatkan di sekitar kita yaitu di perairan. Bentuk tubuh seperti benang, dalam tiap sel terdapat kloroplas berbentuk spiral dan sebuah inti. Reproduksi vegetatif dengan fragmentasi, sedangkan reproduksi seksual dengan konjugasi. Adapun langkah-langkah konjugasi antara lain
Dua benang saling berdekatan, sel yang berdekatan saling membentuk tonjolan. Ujung kedua tonjolan yang bersentuhan saling melebur membentuk saluran konjugasi. Lewat saluran itu terjadilah aliran protoplasma dari satu sel ke sel yang lain. Kedua plasma melebur, disebut peristiwa plasmogami dan segera diikuti oleh peleburan inti yang disebut kariogami. Hasil peleburan membentuk zigospora diploid. Zigospora mengalami meiosis dan ditempat yang sesuai berkembang menjadi benang
Spirogyra baru yang haploid.

Gambar 11. Konjugasi pada Spirogyta

2.

Oedogonium
Ganggang ini berbentuk benang, ditemukan di air tawar dan melekat di dasar perairan. Reproduksi vegetatif dilakukan oleh setiap sel menghasilkan sebuah zoospora yang berflagela banyak. Reproduksi generatif adalah salah satu benang membentuk alat kelamin jantan (antiridium) dan menghasilkan gamet jantan (spermatozoid). Pada benang yang lain membentuk alat kelamin betina yang disebut Oogonium. Oogonium akan menghasilkan gamet betina (ovum). Sperma tozoid membuahi ovum dan terbentuk zigot. Zigot akan tumbuh membentuk individu

f. Chlorophyta berbentuk lembaran
Contoh:
1.

Ulva
Ganggang ini ditemukan di dasar perairan laut dan menempel di dasar, bentuk seperti lembaran daun. Berkembangbiak secara vegetatif dengan menghasilkan spora dan spora tumbuh menjadi
Ulva yang haploid (n), Ulva haploid disebut gametofit haploid. Kemudian secara generatif menghasilkan gamet jantan dan gamet betina. Pertemuan gamet jantan dan gamet betina akan menghasilkan zigot (Z2n). Zigot berkembang menjadi Ulva yang diploid disebut sporofit. Selanjutnya sporofit membentuk spora yang haploid setelah mengalami meiosis. Selanjutnya mengalami mitosis dan menghasilkan gametofit haploid (perhatikan gambar di bawah).

Gambar 12. Siklus hidup Ulva

2.

Chara
Chara hidup di air tawar terutama melekat pada batu-batuan. Bentuk talus seperti tumbuhan tinggi, menyerupai batang, yang beruas-ruas dan bercabang-cabang, berukuran kecil. Pada ruasnya terdapat nukula dan globula. Di dalam nukula terdapat arkegonium dan menghasilkan ovum. Di dalam globula terdapat anteridium yang memproduksi spermatozoid. Spermatozoid akan membuahi ovum dan menghasilkan zigospora yang berdinding sel. Pada reproduksi secara vegetatif dilakukan dengan cara fragmentasi.

Gambar 13. Chara

SUMBER:(www.e-dukasi.net) 5:07pm

By indah ilmiah

LAPORAN PENGAMATAN SUHU DAN KELEMBABAN NISBI

ACARA I. LINGKUNGAN ABIOTIK

TUJUAN :
Mengukur dua faktor dalam lingkungan Abiotik yang penting untuk dipertimbangkan dalam membedakan ekosistem.

KETERANGAN DASAR :
Faktor – Faktor yang akan diukur adalah temperatur dan kelembaban nisbi. Kelembaban nisbi adalah banyaknya uap air yang terdapat dalam udara pada temperatur tertentu dibandingkan dengan banyaknya uap air yang dapat dikandung secara maksimum pada temperatur tersebut. Kelembaban nisbi dinyatakan dalam prosen (%).
Pada umumnya organisme akan kehilangan lebih banyak air dalam atmosfir dengan kelembaban rendah dari pada dalam atmosfir dengan kelembaban tinggi. Oleh karena itu salah satu faktor abiotik yang sangat penting pada organisme darat adalah kelembaban nisbi.

BAHAN DAN ALAT :
– Arloji
– Nateran
– Thermometer ( sebagai thermometer kering )
– Thermometer yang dibalut kapas pada ujungnya. (sebagai thermometer basah)
– Botol berisi air
– Kipas
– Tabel kelembaban nisbi

CARA KERJA :
1. Satu kelompok terdiri dari 3 sub kelompok.
2. Sub kelompok 1 mengamati tempat rimbun (penuh pohon);
Sub kelompok 2 mengamati lapangan rumput;
Sub kelompok 3 mengamati lapangan tanpa tumbuhan.
3. Setiap Sub kelompok melakukan 4 macam pengukuran suhu pada thermometer basah dan thermometer kering.
– Pengukuran I dipermukaan tanah;
– Pengukuran II pada 50 cm. diatas permukaan tanah;
– Pengukuran III pada 100 cm. diatas permukaan tanah;
– Pengukuran IV pada 150 cm. diatas permukaan tanah. (variasi ukuran dapat berubah).

1
Untuk memudahkan pengukuran sebaiknya membuat statif sbb :

THERMOMETER BASAH / KERING

* Kapas pada thermometer basah harus selalu ditetesi air, dan 2 menit sebelum dibaca harus dikipasi.

* Thermometer harus dipasang minimal 5 menit sebelum dibaca.

4. Waktu pembacaan temperatur harus bersamaan.
5. pengukuran dilakukan 4 kali dengan interval waktu 20 menit.
Angka pada thermometer kering menunjukkan temperatur udara, kelembaban nisbi dapt dilihat dalam tabel kelembaban nisbi. Untuk mendapatkan angka kelembaban nisbi kita harus mengetahui angka pada thermometer basah dan thermometer kering.

PEMBAHASAN :
1. Pada permukaan tanah yang manakah ( penuh pohon, lapangan rumput, dan lapangan tanpa rumput ) keadaannya paling dingin dan paling lembab ?
Mengapa demikian ?
2. Pada permukaan tanah yang manakah ( penuh pohon, lapangan rumput, dan lapangan tanpa tumbuhan ) keadaannya paling panas dan kurang lembab ?
Mengapa demikian ?
3. Pada ketinggian yang manakah ketiga habitat tersebut yang mempunyai temperatur udar dan kelembaban nisbi hampir sama?
Mengapa demikian ?
4. Bagaimana perbandingan selisih temperatur terbesar dan terkecil pada ketiga habitat tersebut ?
5. Perbedaan – perbedaan apa yang terdapat diantara ketiga habitat tersebut, sehingga menyebabkan terjadinya perbedaan temperatur dan kelembaban nisbi ?
6. Bagaimana pengaruh interaksi faktor biotik dan abiotik terhadap okosistem ?
7. Apa yang menyebabkan terjadinya perbedaan kelembaban nisbi pada daerah kota dan daerah pedesaan ?
8. Mengapa organisme darat lebih tahan berada pada daerah yang mempunyai kelembaban nisbi tinggi dari pada daerah yang mempunyai kelembaban nisbi rendah ?

2
JAWABAN :
1. Pada Lapangan Rumput
Karena tingkat oksidasinya tinggi, sehingga tetap manjaga kelembaban dan suhu. Semakin diberi air, kelembaban meningkat. Terbukti menurunnya temperatur suhu pada awal pengukuran dengan akhir pengukuran.
2. Tanah Lapang tanpa Tumbuhan
Karena tanpa adanya penghalang (berupa tumbuhan / pohon) sinar matahari dapat langsung menyentuh permukaan tanah, sehingga membuat permukaan tanah tersebut paling panas dan kurang lembab, terbukti saat cuaca cerah suhu mencapai 40’c.
3. Pada pukul 10.15
Karena pada ketiga habitat tersebut mempunyai temperatur dan kelembaban yang hampir mendekati dibandingkan pada waktu sebelum dan sesudah pukul 10.15.
4. Perbandingan sangat jauh yaitu selisihnya 51.
5. 1. lokasi tempat pengukuran / pengamatan suhu dan kelembaban
2. Tanah lapang (tanpa adanya halangan)
3. Tanah rumput (permukaan dengan adanya rumput)
4. Rimbun (adanya pohon / tumbuhan)
6. – menurunnya reproduksi
– menurunnya produksi
– dan bahkan dapat menyebabkan kematian organisme yang ada di ekosistem.
7. a. Daerah kota
– Kurangnya lahan hijau
– Banyaknya aktivitas industri dan transportasi
– Meningkatnya kadar CO2 di udara
– Gedung pencakar langit, yang menggunakan material kaca mengakibatkan efek rumah kaca
b. Daerah Desa
– Banyaknya lahan hijau
– Jarangnya aktivitas transportasi
– Adanya keseimbangan antara siklus CO2 dengan O2.
8. Karena pada kelembaban rendah organisme darat akan kehilangan lebih banyak air. Sehingga tingkat ketahanannya lebih rendah dan kemungkinan tidak dapt bertahan hidup dan kepunahannya lebih cepat.

3
Kelembaban

Lokasi : Rimbun Tanah Berumput
Tanah Lapang
Data Pengamatan Suhu dan kelembaban Nisbi
Lokasi : Rimbun Kampus UNIPA
Hari / Tanggal : Senin , 7 April 2008
Mulai 09.15 dengan suhu awal 28 c

Jam Bagian T. kering T. basah TK – TB Kelembaban Keterangan
09.30 A 31 c 27 c 4 72
B 29 c 28 c 1 92
09.45 A 30 c 26 c 4 72
B 29 c 27 c 2 85
10.00 A 31 c 28 c 3 79
B 27 c 26 c 1 92
10.15 A 33 c 28 c 5 68
B 31 c 27 c 4 73
10.30 A 33 c 28 c 3 68
B 31 c 27 c 4 72
10.45 A 33 c 28 c 5 68
B 32 c 28 c 4 73
11.00 A 34 c 29 c 5 68
B 32 c 27 c 5 67

Praktikum Suhu dan Kelembaban Nisbi

Lokasi : Tanah Lapang Unipa Kampus Ngagel
Hr / Tgl : Senin , 7 Maret 2008
Pengawat : 1. INDAH ILMIAH
2. F.ANCI
Suhu Awal : 29 C
Mulai : 09.00 – 11.00

Data Pengamatan Suhu dan Kelembaban
Jam TK c TB c Kelembaban % Keterangan
09.00 30 29 93 Panas
30 29 93 Panas
09.15 29 25 71 Panas
32 28 73 Panas
09.30 31 26 66 Panas
35 29 63 Panas
09.45 30 26 72 Panas
34 28 62 Panas
10.00 32 26 61 Panas
39 31 55 Panas
10.15 33 26 56 Panas
40 29 42 Panas
10.30 34 26 51 Panas
39 30 50 Panas
10.45 34 26 51 Panas
38 32 65 Panas
11.00 34 28 62 Panas
38 30 54 Panas

Mengamati

Data Pengamatan Suhu dan Kelembaban Nisbi
Lokasi : Tanah Berumput UNIPA Surabaya
Hari / Tanggal : Senin 7 April 2008
Suhu Awal : 29 oc
Tatas : 110 cm
T. bawah : 0 cm

Jam Bagian TK ( oc ) TB (oc ) Kelembaban Keterangan
09.15 Atas 32 27 67 Mendung
Bawah 28 25 78 Mendung
09.30 Atas 32 26 61 Panas
Bawah 27 24 77 Panas
09.45 Atas 33 27 61 Panas
Bawah 28 27 92 Panas
10.00 Atas 34 27 57 Panas
Bawah 28 26 85 Panas
10.15 Atas 35 28 57 Panas
Bawah 30 27 78 Panas
10.30 Atas 36 28 53 Panas
Bawah 31 27 72 Panas
10.45 Atas 36 28 53 Panas
Bawah 31 27 72 Panas
11.00 Atas 37 28 49 Panas
Bawah 35 29 63 Panas

Data Pengamatan Kecepatan Angin

– Lokasi : Depan / halaman Rumah Indah Ilmiah
– Hr / tgl : Jum’at , 4 April 2008
– Pengamat : Indah Ilmiah

Jam
Derajat
Kecepatan
Kondisi diatas
Perm . tanah
Keterangan
08.00 0 0,0 – 0,5 Tenang Cerah belum berawan
08.15 0 0,0 – 0,5 Tenang Cerah belum berawan
08.30 2 1,6 – 3,3 Daun bergerak Cerah , berawan
08.45 2 1,6 – 3,3 Daun bergerak Cerah , berawan
09.00 2 1,6 – 3,3 Daun bergerak Cerah , berawan
09.15 2 1,6 – 3,3 Daun bergerak Cerah , berawan
09.30 2 1,6 – 3,3 Wajah dapat merasakan Cerah , berawan
09.45 2 1,6 – 3,3 Angin dapat merasakan Cerah , berawan
10.00 2 1,6 – 3,3 Angin dapat merasakan Cerah , berawan
10.15 3 3,4 – 5,4 Spanduk berkibar Cerah , berawan
10.30 0 0,0 – 0,5 Tenang Cerah , berawan
10.45 3 3,4 – 5,4 Cerah , berawan
11.00 0 0,0 – 0,5 Tenang Cerah , awan hilang / tidak berawan
11.15 0 0,0 – 0,5 Tenang Cerah , awan hilang / tidak berawan
11.30 0 0,0 – 0,5 Tenang Cerah , awan hilang / tidak berawan
11.45 0 0,0 – 0,5 Tenang Cerah , awan hilang / tidak berawan
12.00 0 0,0 – 0,5 Tenang Cerah , awan hilang / tidak berawan

By indah ilmiah